MEMOAR bag. 3

HARI-HARI PENUH CERIA

Saat musim ulangan sudah berakhir untuk mengisi kekosongan jam-jam pelajaran, aku dan beberapa teman terbiasa dihalaman sekolah bermain bersama dengan bersukaria ada yang bermain kelereng, gasing, dan lompat karet bagi yang perempuan.

…Dan yang lebih ku tak mengerti sampai saat ini, dengan penuh kepolosanku di saat-saat itu pula kami bersama beberapa teman perempuan secara diam-diam pergi ke lembah dororasa (gunung) hanya untuk mencari buah-buahan favorit, yang kami sebut buah “Loka”….

Hampir semua murid kelas 6 pada saat itu pasti merasakan nya. Itulah sepenggal cerita pengalaman yang aku sebut sebagai kegiatan pembelajaran ekstra kurikuler “lintas alam” saat itu.

Ketika musim libur panjang tiba, sudah menjadi tradisi di sekolah kami, murid-murid kelas 6 yang sudah menempuh ujian akhir pasti mengadakan piknik perpisahan bersama guru-guru. Sehari sebelum acara piknik di mulai biasanya kami mempersiapkan bekal seadanya.

Wera dengan jarak puluhan kilo meter dari pusat kota Bima tidak banyak pilihan untuk memilih tempat wisata, namun Tuhan memberikan Wera Keindahan alam dengan garis pantainya yang panjang nan elok, Karombo Wera yang sangat terkenal seantero Bima menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal saat itu, namun seiring dengan muncul nya tempat wisata lain yang lebih menarik Karombo Wera tidak lebih dari kumpulan batu-batu tua.

Kuda menjadi pilihan utama masyarakat Wera sebagai alat transportasi umum yang bersumber dari catatan kekayaan alamnya. Dengan rasa sukaria yang menyelimuti pikiran, sekali gus rasa haru dan galau karena bagaimanapun perpisahan ini sangat berat bagi kami, demi menempuh pendidikan ke jenjang berikutnya.

Dari sekian banyak cerita dengan berbagai hiruk pikuknya ada suatu momen tertentu yang membuat ku merasa lebih nyaman dan percaya diri dari biasanya. Di saat aku melangkah kedepan bersama teman seangkatanku sesekali aku mencuri pandang dan menolek kebelakang kepada seorang gadis lugu, adik kelas yang dua tahun lebih mudah dari ku. Seiring waktu berputar kami saling mengenal dan menjadi teman dekat hingga suatu hari timbulah benih–benih cinta yang bergelora. Namun saat itu aku tak berani untuk mengungkapkannya.

“…Kebahagiaan selalu tampak kecil saat berada digenggaman, namun setelah lepas dari genggaman aku baru tahu betapa besarnya kebahagiaan itu. Ketika kebahagiaan ini berakhir, cinta pun tak lagi bersemi kembali. Bagaikan cinta yang terpendam di dasar samudra…”

Hari-hari penuh ceriapun segera berakhir, namun masih ada beberapa pertanyaan mendasar pada saat itu yang masih menyelimuti alam pikiranku.

…”Ketika aku menyusuri dataran savana yang panjang nan rata disekitar Oi Tui sampai Radu”. Pertanyaan yang selalu membuat rasa ingin tahu adalah: Kenapa mayoritas masyarakat Wera tidak memilih dataran itu sebagai tempat tinggal yang nyaman sehingga membentuk sebuah kota yang kelak penjadi pusat pemerintahannya? Ketimbang memilih tempat tinggal yang terpencar menyusuri kelokan sungai atau tepatnya dikaki-kaki gunung?”…

Satu-satunya jawaban yang cukup memuaskanku pada saat itu adalah “karena daerah itu kering dan daerah pemukiman itu dekat dengan air sungainya TITIK!”. Dengan kepolosanku, ku pikir alasan ini sudah menjadi semacam “Paradigma” yang tak terbantahkan yang sulit untuk diubah oleh siapapun. Atau karena ada alasan lain?. Akankah daerah yang tandus dan kering kerontang itu bisa berubah menjadi daerah yang makmur kelak?.

“TERGANTUNG”

What’s Next?


Bersambung…

EPILOG MEMOAR 1,2 dan 3.

…”semua yang telah saya pelajari di bangku Sekolah adalah persepsi bahwa Bima merupakan daerah terkaya di Indonesia dengan budaya dan agama yang homogen. Saat saya tiba di Jakarta, saya sadar bahwa sebenarnya bukan seperti itu. Saya berpendapat agar sesuatu menjadi lebih baik “wajib hukumnya” mempelajari kelebihan budaya orang lain untuk diaplikasikan di daerah sendiri”…


Iklan

MEMOAR bag. 2

GURU PENDAKI*

“…Jika diibaratkan Pelari dan Pendaki, manakah posisi dan peran terbaik yang harus dilakoni “guru”?

Pelari memacu diri lebih dahulu cepat sampai garis finis, bahkan tak ada yang boleh mengalahkan dirinya….

Karakteristik pendaki. Pendaki kerap dilakukan bersama-sama. Karena pendakian merupakan perjalanan yang melahkan dan lama, para pendaki mesti saling mengisi dan saling membantu agar sampai puncak gunung. Pendaki yang lemah wajib ditolong. Pendaki yang kuat tulus memberikan pertolongan.

Fokus “guru” pendaki bukan sampai puncak gunung sendirian, melainkan memastikan semua pendaki mencapai puncak gunung bersama-sama dalam keadaan selamat. Guru pendaki amat sensitif dengan kesulitan hidup murid. Mata lahir dan mata bathinnya didayagunakan untuk menemukenali masalah setiap murid.

“Saat membimbing murid ke puncak, itulah momen terindah bagi guru pendaki”. Saat dia sabar dan setia membantu menyelesaikan kesulitan hidup para murid, sejatinya dia sedang meniti jalan menuju kebahagiaan yang hakiki…”

Musim ulangan kenaikan kelas sudah berakhir dan bertepatan dengan datangnya musim kemarau sambil menunggu pembagian raport, kira-kira masih ada jeda waktu 2 minggu hingga tiba saatnya hari pembagian raport dan dilanjutkan dengan libur panjang…

Masih teringat dalam pikiranku, disekolah kami ada tiga pohon besar yang berdiri kokoh dan sejajar, ditengah-tengahnya ada pohon magoni tinggi besar dekat ruang guru yang diapit oleh dua pohon woodi (istilah kami) yang tumbuh melebar, rindang, berbuah banyak, dan lebat, serta bercabang banyak semacam perdu besar. Woodi yang satu berdiri pas didepan kelas 1, 2, 3 dan yang satunya lagi berdekatan dengan kelas 6.

Gayung bersambung, keberadaan pohon woodi telah merubah segalanya. Kehadirannya sebagai tempat pembelajaran diluar kelas telah menginspirasi para siswa. Didominasi anak-anak kelas 2,3 dan 4, di saat jam-jam istirahat para siswa dari berbagai umur dengan lincah memanjat woodi untuk dimakan buahnya, lumrah dilakukan oleh murid laki-laki, namun oleh beberapa guru kami kegiatan semacam itu dianggap membahayakan keselamatan siswa, akhirnya dikeluarkan semacam peraturan tidak tertulis “melarang siswa memanjat disaat jam sekolah”.

Bersamaan dengan itu, muncul ide yang sangat menginspirasi dari guru bahasa kami dengan penekanan “boleh menaiki pohon woodi dengan catatan untuk kegiatan membaca”.

Pada jam-jam Istirahat masih tertanam dalam ingatanku, saat itu para murid sangat antusias membaca buku di atas pohon disetiap cabang woodi, ada yang membaca puisi, buku-buku pelajaran maupun cerdas cermat antar murid dan itu dilakukan dengan riang gembira, tidak ketinggalan pula murid-murid perempuan ikut berpartisipasi, ada yang duduk diranting dan disekeliling pohon woodi, semuanya bergembira.

Umumnya kegiatan membaca didominasi murid kelas 6. Tidak hanya sebatas itu pada saat tertentu guru pelajaran bahasa memberikan tugas kepada kami untuk membuat sebuah karangan yang menceritakan pengalaman kami selama berlibur dan di akhir cerita tidak lupa menuliskan cita-cita. Masing-masing murid harus membacakan karangannya didepan kelas.

“….Di sepanjang hidupku yang sangat ku kagumi adalah kisah persahabatan antar teman, ketulusan guru-guru pendaki, serta kasih sayang orang tua dan keluarga sangatlah menginspirasi, aku dan beberapa teman ku di saat hari libur tiba, selepas belajar mengaji bersama, kami terbiasa berkumpul tidur bersama hanya untuk mendengarkan sebuah dongeng dari ibu ku yang syarat dengan pesan moral... “.

“…Hari-hari berlalu begitu cepatnya, secepat berjalannya waktu, arah jarum jam pun semakin cepat hingga malam pun tiba, rasa harupun tak kuasa ku menahannya…

Bersambung….

bag. 3. HARI HARI PENUH CERIA


*Hari Guru.

Saat aku diam engkau rebut Hati ku, saat aku jatuh engkau menolongku, saat aku dingin engkau menghangatkan aku, saat aku bingung engkau yang memberikan aku jalan keluar. Engkau tak hanya mampu beretorika didepan kelas tapi engkau juga mengamalkan ilmu yang engkau miliki. Sungguh aku sangat kagum dan terinspirasi dengan mu”.

“Selamat hari guru, jasa mu tiada tara….”


MEMOAR bag. 1

“…Saat umurku mulai beranjak remaja terkadang aku berpikir betapa indahnya alam tempat kelahiranku, di setiapku menjelajahinya, saat itu pula hati ini terus membara dengan penuh semangat ingin terus menjelajahinya..”

Sesekali sambil membayangkan adakah tempat lain di bumi ini yang melebihi keindahan alam tempat kelahiranku? Topografinya yang berbukit-bukit, padang savana dengan hamparan yang luas dihiasi dengan binatang ternak yang lalu lalang, pepohonan yang semerbak hijau disekelilingnya, terkadang melewati sawah kering dengan hiasan padi yang menguning menambah keindahannya…

Kisah ini semua berawal di tahun 1980-an, saat aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar.

Ya… SDN 1 Nunggi-Wera, hmm…nama itu sampai kapanpun masih tertanam dalam sanubariku.

Pelajaran yang paling berkesan dalam ingatanku saat itu adalah Geografi, tentang kekayaan alam Indonesia dan Wera khususnya. Sejenak membuat suasana kelas menjadi hening, saat guru kami menerangkan dengan begitu antusiasnya memberikan pemahaman tentang betapa kayanya hasil bumi Indonesia, semakin membuat kami tertegun, lebih-lebih saat guru membahas tentang kekayaan alam Wera. Menurut guru kami, di dalam bumi wera yang kering itu memiliki tiga kekayaan bahan tambang utama antara lain: batuan granit, marmer, dan Uranium.

Agar suasana kelas menjadi rileks sesekali guru melemparkan sebuah pertanyaan lucu. “Siapa diantara kalian yang punya marmer? Dengan penuh antusias salah seorang teman kami yang duduk di bangku paling belakang menjawab “Saya punya bu di rumah”. Darimana kamu dapat? Cetus guru kami, “Dari Sawah bu hasil panen” Seketika itu suasana kelas menjadi riuh. Rupanya guru kami paham betul agar suasana kelas lebih rileks, sehingga pelajaran lebih mudah dipahami. Ironisnya dengan segala keterbatasan fasilitas sekolah, mulai dari membersihkan kelas, menyiapkan bangku sendiri-sendiri, sampai pada menjaga kebun sekolah secara berkelompok disaat tengah malam gelap gulita.

Tugas ini harus kami lakukan tanpa terkecuali, kalau tidak hukuman sudah menanti. Yang sangat ku sesali, ketika aku dan beberapa teman ku tidak masuk sekolah disaat-saat musim ulangan, saat itu pula guru kami langsung mencari tahu (OTW) keberadaan kami. Itulah momen yang sangat menegangkan, sekali gus membuat ku malu.

…”Kesabaran dan rasa tanggung jawab sangatlah diperlukan…”.

Bersambung…bag. 2 “GURU PENDAKI”

Masyarakat Yang Cerdas

Belajar dari kasus terhentinya Pembangunan masjid Jami Awaluddin Nunggi selama 30 tahun lebih, kitapun terhenyak. Kalau kita analogikan dengan kelahiran seorang bayi yang umurnya sudah 30 tahun lebih saat ini, bila melihat kondisi masjid tersebut pasti sudah berteriak lantang.


Kondisi bagian mimbar yang sedang direnovasi.

Ketua Panitia Perantau Nunggi-Wera Nusantara bersama bendahara (kiri atas) dan Sekretaris (kanan bawah).

Dibenak kita, kamunikasi apa yang terjadi jika tidak ada kepercayaan? Anda akan mencari-cari makna dan maksud yang tersembunyi. Ketidak percayaan adalah definisi yang paling tepat untuk komunikasi yang buruk. Namun disaat-saat penting seperti ini komunikasi apa yang terjadi jika terdapat kepercayaan yang tinggi? Mudah saja, komunikasinya tidak memerlukan upaya yang berat dan berlangsung seketika. Teknologi apapun yang pernah diciptakan manusia, tak ada yang bisa mengupayakan hal itu.

Ini adalah sebuah kepercayaan….

Kepercayaan lebih cepat dari pada apapun yang bisa anda pikirkan. Inilah pengikat yang menyatukan dari berbagai pikiran sehingga tujuan menjadi sama…

Ironisnya….
Kepercayaan itu munculnya pelan, dengan menjalankannya secara lambat. Tapi dalam soal hubungan dengan manusia, CEPAT adalah lambat dan LAMBAT adalah cepat…

Kita kembali ke progres pembangunan Masjid Jami Awaluddin Nunggi sebagai study kasus, sudah menjadi semakin menumbuhkan keasadaran bersama masyarakat Nunggi Perantau sebagai panggilan jiwa, membangun kesadaran kolektif, mengerjakan proyek sosial untuk besarnya dampak positif yang dihasilkan dari proyek tersebut terhadap kesalehan sosial ribuan masyarakat Nunggi. Inilah visi jangka panjang kita kedepannya.

Perantau senior (tengah sorban) yang terus menyemangati.

Ditengah mangkraknya pembangunan masjid tersebut respon warga perantau sangatlah menginspirasi. Mereka rela urunan membangun kembali masjid tersebut. Warga perantau percaya sekecil apapun konstribusi yang diberi, mereka telah membantu pemerintah dan masyarakat setempat lolos dari dosa sosial. Ini sekaligus cara mereka dalam mengekspresikan rasa cinta terhadap kampung halaman.

Pengawas inti panitia perantau dengan methode dana Urunan/lelang.

Luar biasanya dalam jangka 1 x 24 jam mereka mampu mengumpulkan dana sebesar Rp. 30 jt. Methode pengumpulan dana yang bertajuk “gerakan urunan/lelang” yang diluncurkan sejak 20 Februari lalu, hingga per Juli 2018 telah mengumpulkan dana sebesar Rp. 167 juta.

Sesungguhnya bukan besar nominal penggalangan dana itu yang membuat kita terinspirasi, kita tersentak karena berbagai rumor sen-sitif yang melatarbelakangi mangkraknya pembangunan masjid tersebut, ternyata warga perantau nunggi memperlihatkan respon yang tidak hanya positif tapi juga solutif, dan memiliki keinginan yang kuat untuk berbuat “sesuatu” demi memajukan daerahnya.

Kaum intelektual Wera juga mengamini gerakan itu sebagai bagian dari pencerdasan publik terutama generasi muda sehingga dapat pemahaman yang komperehensif tentang kesalehan sosial.

Pengawas wilayah sulawesi dan Indonesia Timur, Panitia Perantau Nunggi-Wera Nusantara

Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan peranan masyarakat dan pemerintah setempat. Kitapun tidak lantas menyalahkan pemerintah karena tidak mampu memajukan daerahnya, sementara masyarakat sendiri tidak pernah berusaha, berjuang dan bekerja keras untuk memajukan dirinya sendiri. Kita bantu awasi pemerintah setempat agar disiplin mengelola anggaran dan mengupayakan penggunaan uang untuk mendanai program-program produktif untuk kesejahteraan masyarakat luas. Yang menjadi catatan penting disini apa yang dilakukan masyarakat nunggi perantau harus kita apresiasi.

Kalau masyarakatnya saja bisa kenapa pemerintah tidak? Mari kita merubah pola pikir kita dari sekarang, tujuannya untuk kebaikan dan kemajuan kita bersama.

Forum Perantau Nunggi-Wera Nusantara

Bersama kita bisa…

Pendidikan akan menjadi kunci perubahan menuju Wera yang Mandiri

Pendidikan yang ideal bagi pengembangan generasi muda Rapublik Indonesia saat ini.

Memahami sesuatu, tetapi tidak menerapkannya sama saja dengan tidak memahaminya.

Hanya dengan melakukan atau menerapkannya, pengetahuan kita menjadi lebih bernilai…..

Mari kita renungkan bersama keprihatinan umum yang dialami sebagian besar generasi muda kita secara lebih mendalam :

“Bayangkan jika orang tua sederhana yang telah menjual sebagian besar harta hasil kerja siang malam demi mengantarkan anaknya menjadi sarjana (yang kita harapkan sebagai pelopor utama perubahan didaerahnya), setelah keluarga berkorban begitu banyak, sang anak yang telah jadi sarjana ternyata tetap menganggur. Alih-alih membuat keluarga bahagia, untuk dirinya saja tidak bisa berbuat banyak”.

Apa yang kita, saya dan anda bisa jelaskan jika kondisinya seperti ini?

Kenyataan ini menjadi lebih ironis bila kita melihat fakta bahwa 12% keragaman hayati dunia ada di Indonesia. Nusantara kita adalah alam raya anugrah yang maha kaya, ketika kita memiliki tanah, air, tumbuhan, hewan yang begitu melimpah. Namun dilain pihak kita belum mampu menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang terpendam. “Ketidak berdayaan ekonomi memang sangat merugikan”.

Generasi muda Sangiang Wera sedang menjajakan perahunya untuk disewakan kepada para pengunjung wisata “Gunung Sangiang Api”

Peperangan bersama melawan musuh pengangguran dan kemiskinan adalah  dengan cara saling kerjasama antara masyarakat terdidik (intelektual) dan praktisi yang didukung oleh budaya masyarakat yang tidak cepat puas, rasa ingin tahu yang menggelora terhadap sesuatu yang baru serta kebijakan pemerintah yang berbasis kebutuhan masyarakat setempat.

Ranggasolo Wera 2017. Petani so simbu sedang mengolah tanah dengan menggunakan traktor tangan (semi moderen) diharapkan hasil panen terus meningkat.

So Simbu Wera 2017. Petani dgn anaknya sedang menyiapkan bibit tanaman padi yang telah siap untuk ditanam.

Budaya masyarakat yang pasif, yang hanya menunggu pekerjaan ternyata tidak sanggup membuat  masyarakat mandiri. Kondisi inilah yang membuat sebagian masyarakat (baca generasi mudah terdidik) berpindah ke kota sebagai bentuk alternatif mencari penghidupan yang layak, diharapkan menjadi ujung tombak pencipta lapangan pekerjaan. 

Merubah kotoran dan rongsokan menjadi emas bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. KECUALI jika anda berpikir bahwa menjadi PNS merupakan satu-satunya cara untuk membuat kita menjadi lebih sejahtera.

Rapat persiapan Pawai Rimpu 2016, generasi muda Nunggi Wera yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kasabua Ade Cikupa – Tangerang

Gubernur Banten mewakili pemerintah setempat sedang menyaksikan acara “Pawai Rimpu” 2016 Cikupa-Tangerang

Jumlah orang terdidik dengan pola pikir maju dan terbuka masih sangat minim. Buktinya bahwa kaum Intelektual terdidik dan praktisi yang berhasil membangun dirinya secara nasional belum mampu mengangkat daerahnya secara rata-rata, ini artinya jumlah masyarakat terdidik masih jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduknya. Pendidikan dan pelatihan yang baik akan mengurangi kesenjangan itu.

Salah seorang intelektual Wera H.M. Natsir sedang mempromosikan budaya “Rimpu” pada pameran wisata Lombok.

UNRAM Peduli. Rektor Universitas Mataram sedang memberikan edukasi tentang pentingnya SDM bagi kemandirian bangsa.  di masjid Al-Hidayah Tawali Wera

Masyarakat terdidik akan mampu membuka lapangan pekerjaan, mengolah sumber daya alam menjadi bernilai tambah dengan memanfaatkan kergaman hayati, keindahan alam dan budaya. Menuju Wera Menjadi Lebih Mandiri bukanlah sebuah UTOPIA (hayalan), cukup hanya 2% saja masyarakat yang berjiwa wirausaha dari jumlah penduduknya akan mampu merubah suatu daerah.

Generasi muda terdidik Wera dalam apel bersama saat memperingati hari guru nasional 2016

Usaha dagang Baso Ama Ali dipertigaan Tawali, Nunggi dan Mandala Wera.

Pemerintah berupaya mendorong penciptaan efek pengganda bagi perekonomian masyarakat lokal. Industri kecil yang berbasis potensi daerah diberi perioritas utk tumbuh dan berkembang  agar tercipta pewira usaha baru di masyarakat. Keberadaan investor/ perusahaan di daerah juga dapat dinikmati masyarakat setempat baik langsung maupun melalui efek pengganda. 

Sinergi antara perusahaan daerah dengan masyarakat setempat dalam menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan serta pemasaran, telah mendorong sejumlah desa mulai mengembangkan diri menjadi desa wisata yang berbasis Otentisitas Potensi Desa, baik keunikan alam maupun masyakatnya.  

Tangkuban perahu, salah satu wisata lintas alam Jawa Barat. Contoh kerjasama sinergis antara pemerintah setempat dengan masyarakat.

Pengunjung sedang menikmati pemandangan Tangkuban Perahu yang indah dan inspiratif
Efek Pengganda. Masyarakat sedang menjajakan barang dagangannya, memanfaatkan keramaian pengunjung wisata tangkuban perahu.

Jaman akan terus dan terus berubah, jika bangsa Indonesia benar-benar ingin menjadi negara yang memakmurkan rakyatnya, maka arah pembangunan kedepannya adalah pembangunan yang berkeadilan, yakni membangun dari pinggiran, pulau-pulau terdepan dan dari Desa itu sendiri, bukan membangun dari kota karena hanya dinikmati oleh segelintir orang.

KESIMPULAN

Bila dalam tulisan (situs) ini anda menemukan benih-benih kebaikan, ini berarti kesempatan saya untuk menanamkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena kita selalu yakin kebaikan yang kita sebarkan bisa jadi membawa manfaat bagi semua orang. 

Forum HKN Nunggi Wera Jabodetabek dengan beragam profesi, bertekad memberikan informasi dan edukasi seputar pembangunan masyarakat wera umumnya.

Tujuan dari tulisan ini, agar kita bisa membuat peta perjalanan yang akan membawa kita, saya dan anda keluar dari problem status quo menuju wera yang lebih mandiri. Perlu tindakan nyata dalam memulai hal-hal baru, anda tidak hanya dituntut berfikir kreatif, efisien tapi lebih dari itu anda harus mampu mengubah impian menjadi kenyataan. 

Generasi muda Wera Kalimantan sedang menyiapkan paket bantuan korban banjir Bima 2016

Generasi muda Tawali Wera yang tergabung dalam forum “PERMATA Jabodetabek” menuju kobi menyalurkan sembako untuk korban banjir Bima.

Anda semua bisa memberikan sumbangan yang berarti dalam konteks baru zaman kita ini. Solusi terhadap masalah kita bersama, sama seperti terobosan besar dalam sejarah manusia. Solusi akan muncul  ketika kita     meninggalkan paradigma lama, cukup anda sabar dan mau bersusah payah dalam memulai sesuatu yang baru.

Bersikap Optimis adalah langkah awal yang terpenting dalam hidup ini. Jika dalam kehidupan ini kita jatuh 99x maka kita harus bangkit 100x.


By. Abdul Haris Hamzah

Vidio : weranusantara.wordpress.com

Menuju Wera Yang Lebih Maju

Wera, merupakan bagian dari kabupaten Bima NTB yang letaknya di bagian utara timur laut kota bima yang berbatasan langsung dengan wilayah NTT. Walaupun letaknya cukup jauh dari kota bima dengan kondisi topografi yang berbukit-bukit, Wera memiliki potensi sumber daya alam yang cukup potensial, mulai dari padang savana yang cocok untuk peternakan, lahan pertanian yang luas dengan hamparan garis pantainya yang panjang. Bila dikelola secara profesional akan menghasilkan potensi peternakan, pertanian serta pariwisata yang luar biasa.

6281281224333-1439510437
Sawah dipinggir pantai Oi Caba dengan latarbelakang pulau ular

Pertanian merupakan bidang unggulan sekaligus mata pencaharian utama bagi masyarakat Wera terutama padi dan bawang merah, sedangkan bidang peternakan merupakan unggulan kedua seperti sapi bali dan kerbau. Bidang selanjutnya adalah Pariwisata.

img-20161212-wa0080
Topografi yang berbukit-bukit merupakan ciri khas alam wera

Wera memiliki lima Destinasi Wisata yang bisa dikembangkan bahkan beberapa diantaranya sudah mulai dikenal secara nasional seperti: Pulau Ular, Gunung api Sangiang, Pantai Oi Caba, Air terjun Oi Nca dan Karombo Wera. Belum lagi disepanjang garis pantai Nanga Wera yang terakses langsung dipinggir jalan lintas Wera – Ambalawi.

Pulau Ular Wera Pai
img-20160910-wa0054
Air terjun Oi Nca Ntoke Wera
img-20161206-wa0036
Hamparan sawah di nunggi Wera

Untuk kedepannya kelima Destinasi Wisata ini perlu menjadi sektor perioritas dalam program pembangunan pemerintah setempat dengan dukungan pihak swasta untuk dikelola secara profesional dan terencana.

img-20161009-wa0051
“LOPI” perahu yang sudah siap untuk berlayar. Pantai sangiang wera

Bidang-bidang lain seperti Perdagangan dan Perikanan, memiliki dinamika tersendiri serta tumbuh menjadi kekuatan baru yang menjanjikan bagi masyarakat wera kedepannya. Seiring dengan berkembangnya arus informasi media sosial (medsos) dan semakin gencarnya pemerintahan sekarang dalam mendukung program Nawacita, yakni pembangunan berbasis desa dan daerah pinggiran, merupakan tantangan sekali gus peluang yang menjanjikan.

img-20161009-wa0035
Para awak media yang meliput “Tradisi Kalondo Lopi” bersama camat wera (baju kuning) di pesisir Sangiang Wera 2016

Bagi masyarakat Wera khususnya, masih ada beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah bersama antara lain :
Pertama. Bahwa bidang-bidang unggulan sebagai mana yang disebutkan diatas masih sangat minim tersentuh tekhnologi tepat guna. Selama masih dikelola secara tradisional dan masyarakat terbuai dengan paradigma lama “yang penting menghasilkan dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dianggap berhasil”, maka selama itu pula bidang-bidang unggulan tetap berjalan ditempat.

Kedua. Belum adanya edukasi yang memadai baik dari pemerintah setempat maupun dari kalangan Intelektual dan praktisi yang sudah lebih dahulu menerima arus informasi moderen.

Ketiga. Harus di akui bersama bahwa tingkat SDM masyarakat wera umumnya masih sedikit tertinggal dibandingkan wilayah lain di kabupaten bima.

PERTANYAANNYA “Mampukah kita menyelesaikan ketiga pekerjaan rumah diatas”? Ada baiknya kita mencontoh orang  jepang.

img-20160908-wa0010
Jl. Lintas wera – ambalawi
img-20161212-wa0068
Pantai pasir putih Oi Tui Wera

Ada lima prinsip yang membuat orang jepang dapat berkembang menjadi negara maju di asia bahkan di dunia :
Pertama. Pekerja Keras, di dunia ini tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang malas. Ini adalah motto bangsa jepang yang dijadikan pedoman dalam bekerja. Orang jepang dikenal pekerja keras dan profesional.

Kedua. Tepat Waktu, bagi orang jepang menunda-nunda pekerjaan sama dengan menambah pekerjaan dan mereka mengaplikasikannya.

Ketiga. Punya Rasa Malu, Siapa bilang rasa malu harus dihilangkan. Bangsa jepang malu kalau tidak berkembang dan gagal, malu kalau meneruskan kesalahan. Sedangkan kita sekali gagal langsung patah semangat dan bisa jadi meneruskan kesalahan yang sama.

Keempat. Menjaga Tradisi, orang jepang bukanlah tipe orang yang lupa akan kulitnya. Secanggih apapun tekhnologinya mereka Selalu memasukan tradisi bangsa mereka. Tradisi menunjukan Ciri Khas dan karakter suatu bangsa. Tradisi dan karakter yang unik membuat  orang tertarik untuk  mendatangi kita (baca menarik wisatawan).

Kelima. Punya Rasa Ingin Tahu, orang jepang selalu mempunyai motivasi untuk mempelajari hal-baru. Hal ini di dukung pula kebiasaan mereka yang rajin membaca dan Terbuka pada pemikiran baru.

Jadi apakah kita ingin mempertahankan sifat malas, suka menunda-nunda pekerjaan dan membiarkan kita terus terbelakang atau kita bisa bangkit seperti semangat orang jepang? Menurut saya kita harus Bangkit!

Bersambung…

Sekilas Tentang Situs ini

Abdul Haris Hamzah

Situs (tulisan) ini sengaja saya persembahkan untuk memotivasi generasi mudah wera atau siapa pun yang membaca tulisan ini. Bahwa tanpa disadari yang terjadi selama ini adalah kita, saya dan anda masih belum beranjak dari paradigma lama tanpa bertindak apapun untuk memulai sesuatu yang baru.

Jika pikiran, asah kemampuan serta potensi Sumber Daya Alam kita abaikan, maka bisa diprediksi bahwa masa depan kita, saya dan anda akan tetap dalam status quo (begitu-begitu saja), jika anda berpikir pendidikan, modal itu mahal dan sulit, cobalah anda hidup dengan kemiskinan dan kebodohan. Pada hal lingkungan diluar sana sudah berkembang lebih maju dari kita.

Mulailah dengan paradigma baru, karena dalam kehidupan ini ada suatu kepastian yaitu tumbuh atau mati, maju atau terbelakang.
“Mari kita memilih untuk Tumbuh dan Maju”!

By. Abdul Haris Hamzah

Vidio: weranusantara.wordpress.com